Nunukan, NETrespon.id – Kegiatan tahunan retret antara dua sekolah SMA Katolik Frateran St. Gabriel Nunukan dan SMA Katolik Don Bosco Tarakan resmi berakhir pada Rabu (12/2) dengan penuh hikmat.
Sejak tanggal 7 hingga 12 Februari, para siswa mengikuti sejumlah rangkaian acara yang bertujuan memperkuat nilai-nilai spiritual dan lebih mengenal kepribadian siswa – siswi serta memperat tali persaudaraan.
Mengenai hal itu, Frater Kepala dari kedua sekolah memberikan tanggapan mengenai dukungan baik dari pemerintah Propinsi dan Kabupaten/Kota sehingga kedepannya lebih proaktif dalam memberikan dukungan penuh terhadap Sekolah Katolik yang ada di Kalimantan Utara demi menciptakan lulusan yang berkarakter yang berlandaskan Pancasila.
Kepala Sekolah SMA Katolik St. Gabriel Nunukan, Fr. Maria Yohanes, BHK mengatakan agar Pemda Nunukan bisa menyuarakan kepada Pemprov sehingga hisa memberikan bantuan kepada sekolah yang berakreditasi ‘A’ seperti SMA Katolik Nunukan.
“Selama ini menurut saya bantuan yang diberikan untuk sekolah swasta seperti SMA Katolik ini masih sangat kurang dan berbeda dengan sekolah negeri karena,” Ujar Fr. John, Selasa (11/2/2025).
Ia menuturkan bahwa sempat dihubungi oleh Pemprov melalui untuk pemberian bantuan berupa Perpustakaan, Laboratorium dan Toilet namun hingga saat ini belum ada kejelasan.
“Kemarin sempat dari PUPR datang mengukur akses jalan tapi sampai hari ini belum ada juga pengerjaan dan lahan untuk pembangunan 3 gedung sudah disiapkan, tapi sampai saat ini belum ada kepastian apakah masih proses atau apa saya tidak tahu, semoga ada kejelasan soal ini karena ini juga menunjang aktivitas peserta didik untuk menggapai masa depan mereka,” jelasnya.
“Apalagi pada saat ada kegiatan – kegiatan seperti retret ini, kami sebagai pihak sekolah juga minder karena kurangnya fasilitas sekolah padahal di kurikulum merdeka mengharuskan agar siswa – siswi lebih aktif dalam berkegiatan,” lanjutnya.
Disamping itu, Kepala Sekolah SMA Katolik Don Bosco Tarakan, Fr. Nisensius Mety, CMM mengatakan untuk perpanjangan tangan dari pemerintah memang sebenarnya dibutuhkan guna memgembangkan bakat – bakat yang dimiliki siswa – siswi.
“Tentu, ini perlu dipahami, kami dibawah naungan dinas pendidikan, kami mendidik anak – anak bangsa yang kebetulan dititipkan di sekolah kami yang pada akhirnya setelah lulus mereka mengabdi pada bangsa dan negara,” kata Fr. Nisensius.
Ia juga menyampaikan sebenarnya membutuhkan dukungan nyata tidak hanya doa namun juga finansial untuk kegiatan seperti ini.
“Seperti kegiatan ini, anak – anak ini “Self Support”, mereka mengumpulkan dana mereka sendiri, seperti menabung, mencari dana, dan bantuan dari orang tua, tentu harapan kami kedepan agar Pemprov bisa lebih mendukung dalam segi apapun untuk perkembangan peserta didik di Kaltara,” pungkasnya.
